December 1, 2022

Sayang Banget! 9 Bahan Makanan ini Punah Karena Ulah Manusia

Waktu baca: 6-7 menit

Pernahkah kamu membayangkan memakan hewan purba? Sayangnya hewan dan tumbuhan yang menjadi bahan makanan manusia di masa lampau sudah bayak yang hilang dan punah. Namun kita bisa mengintip beberapa dari mereka dari catatan-catatan yang tersedia. Berikut list terkait 9 bahan makanan yang sudah punah karena kecerobohan manusia.

Sejarah mengajarkan kita bahwa umat manusia adalah makhluk yang paling rakus di dunia. Manusia telah memakan ribuan spesies hewan dan tumbuhan hingga punah. Bahan makanan tersebut tidak akan bisa dirasakan oleh generasi setelahnya. Meski begitu manusia terus mencoba memperbaiki perilaku dan moral lewat catatan-catatan yang ditinggalkan untuk generasi mendatang. Dari catatan-catatan tersebut kita dapat mengetahui apa yang hilang dari dunia yang tidak dapat lestarikan kembali.

Dari mammoth hingga merpati penumpang, kita telah mendorong kepunahan bahan makanan favorit kita melalui perburuan berlebihan dan perusakan habitat. Secara global, kecenderungan kita untuk memanen secara berlebihan telah membatasi variasi makanan yang kita makan.

“Ketika berbicara tentang buah-buahan dan sayuran, kita hanya memiliki akses ke sebagian kecil dari keragaman yang ada seabad yang lalu,” ucap Lenore Newman dalam bukunya, Lost Feast: Culinary Extinction and the Future of Food.

Terus gimana sih rasa dari makanan-makanan ini yang generasi sebelum kita doyan makan hingga punah? Yah… terlepas dari deskripsi dari catatan yang ditulis, kita ga bakalan tau karena meraka sudah punah. Berikut hewan dan tumbuhan yang sudah punah karena dijadikan bahan makanan oleh manusia:


Mammut

Nenek moyang manusia berburu mammut yang gemuk untuk dijadikan bahan makanan mereka. Daging mammoth adalah komponen penting dari makanan nenek moyang manusia paling awal. kita memakan begitu banyak dari mereka sehingga perburuan erlebihan mungkin berkontribusi pada kepunahan mammoth sekitar tahun 2000 SM (Walaupun perubahan iklim lah yang berkemungkinan besar menjadi faktor utama).

Meskipun telah punah selama ribuan tahun, beberapa ilmuwan dan penjelajah modern mengklaim bahwa mereka telah mencicipi daging mammut. Hal ini dapat terjadi karena spesimen mammut sering ditemukan terawetkan dengan sempurna di Kutub Utara yang dingin, dan secara teknis daging yang beku tersebut dapat dicairkan dan dikonsumsi.

Namun penemuan ini tidak memberi kita banyak pengetahuan tentang bagaimana rasa daging mammut di puluhan ribu tahun yang lalu. Dikarenakan daging yang telah dibekukan selama itu berubah menjadi cairan bau saat dicairkan. Duh duh duh…


Silphium

Ramuan dari Silphium ini mempunyai banyak kegunaan untuk Orang Yunani dan Romawi kuno. Tanaman ini mempunyai banyak untuk Batangnya dimasak dan dimakan seperti sayur, sedangkan getahnya dikeringkan dan diparut di berbagai masakan sebagai bumbu.

Tangkai tanaman silphium digunakan untuk bumbu makanan, dan daunnya digunakan untuk menjadi pakan domba dan sapi untuk meningkatkan rasa daging mereka. Dari bukunya yang berjudul Lost Feast: Culinary Extinction and the Future of Food, Newman menuliskan kepunahan silphium mengajarkan kita bahwa mencintai makanan saja tidak cukup untuk melestarikanya “Kita sebenarnya harus berjuang dan berhati-hati, terutama karena kita memiliki dampak yang lebih besar pada planet ini,” ujarnya.

Tumbuhan ini memiliki khasiat obat juga. Silphium hanya tumbuh di sebidang tanah seluas 125 kali 35 mil di Libya modern, dan tidak dapat ditanami. Permintaan akan ramuan tanaman berharga ini dengan cepat melampaui pasokan alaminya. Pliny the Elder menulis bahwa hanya satu tanaman silphium yang ditemukan selama masa hidupnya, dan tanaman itu diberikan kepada kaisar Romawi Nero antara tahun 54 Masehi sampai 68 Masehi.


Sapi Laut Steller

Sapi laut adalah kerabat dari manatee dan dugong. Tidak seperti kedua spesies itu, mereka beradaptasi untuk hidup di perairan Arktik yang dingin.  Sebelum Zaman Es, mereka tampaknya ada di mana-mana di sepanjang tepi Pasifik, hidup di mana-mana mulai dari Jepang hingga Semenanjung Baja. Pada abad ke-18, ketika mereka pertama kali diketahui oleh ilmu pengetahuan Barat, sapi laut dikurung di perairan sekitar dua Kepulauan Arktik kecil di Rantai Komandan, di antara Aleutians dan Semenanjung Kamchatka.

Seorang naturalis Jerman, Georg Wilhelm Steller, mengidentifikasi sapi laut Steller di sekitar Kepulauan Komandan di Laut Bering pada tahun 1741. Tumbuh hingga 30 kaki panjangnya, secara signifikan lebih besar daripada sapi laut yang hidup hari ini.

Rasanya juga cukup enak. Dagingnya lebih asin dibandingkan dengan daging kornet, dan lemaknya ternyata terasa seperti minyak almond. Pelaut dilaporkan meminum lemak cairnya dengan cangkir. Sapi laut Steller adalah sumber bahan baku kulit dan minyak lampu serta daging.  Hewan ini diburu hingga punah pada tahun 1768—kurang dari 30 tahun setelah pertama kali dideskripsikan.


Auroch

A 16th-century depiction of the Auroch./Chris Hamilton Smith/Wikimedia Commons/Public Domain

Auroch adalah nenek moyang dari semua sapi ternak, dan dengan demikian menjadi hewan yang paling penting dalam sejarah umat manusia. Spesies sapi asli didomestikasi 10.000 tahun yang lalu pada masa-masa awal pertanian. Mereka besar (“sedikit di bawah ukuran gajah,” menurut Julius Casear) dan lebih ramping daripada sapi modern.

Mereka menyediakan daging, kulit, susu, dan mengangkut orang dan barang. Berkat auroch, manusia menjadi kurang bergantung pada mencari makan dan berburu untuk bertahan hidup, dan populasi manusia mulai berkembang dengan pesat.

Dikarenakan wabah penyakit dan hilangnya habitat, spesies ini menyusut hingga auroch terakhir mati di hutan Polandia pada abad ke-17. Berita baiknya, hingga saat ini terdapat upaya pemuliaan baru bertujuan untuk menghidupkan kembali spesies punah ini atau setidaknya menghasilkan hewan baru yang mendekati. Daging sapi dari salah satu sapi mirip auroch yang dibesarkan di era modern ini dikabarkan berair dan empuk dengan rasa yang “unik”.


Apel Taliaferro

Dari ribuan jenis apel bernama yang hilang sejak zaman kolonial, apel Taliaferro dianggap sebagai cawan suci, karena sebuah fakta bahwa Thomas Jefferson menganggapnya sebagai apel sari terbaik yang pernah dia rasakan.

Thomas Jefferson  membudidayakan apel Taliaferro di Monticello. Dalam sebuah surat tahun 1814 kepada cucunya, Jefferson mengatakan buah kecil itu menghasilkan “tidak diragukan lagi cyder terbaik yang pernah kita kenal, dan lebih seperti anggur daripada minuman keras apa pun yang pernah saya cicipi yang bukan anggur.”

Meskipun diyakini bahwa apel hilang dengan kebun asli perkebunan, beberapa ahli hortikultura masih berharap jenis apel ini masih bertahan meskipun sedikitnya deskripsi yang menulis tentang buah ini. Bahkan jika kita menemukannya, kita mungkin tidak akan dapat mengidentifikasi jika apel tersebut apel milikJefferson atau bukan.


Kembang Kol Cornish Tua

Kembang kol Cornish tua tidak terkenal karena rasanya, tetapi memiliki satu keunggulan dibandingkan jenis lain. Sayuran ini tahan terhadap virus tanaman perusak yang disebut ringspot. Pada 1940-an, petani Eropa mulai mengganti kembang kol Cornish tua dengan jenis dari Prancis yang lebih baik dalam hal pengiriman. Tanaman ini punah pada 1950-an dikarenakan penyakit ringspot telah menghancurkan tanaman kembang kol di wilayah tertentu di Inggris.


Merpati Penumpang

Manusia telah mengonsumsi  merpati penumpang selama berabad-abad tahun lamanya. Merpati penumpang adalah salah satu burung yang paling umum dan sangat penting dalam sistem rantai makanan. Pada masa kolonial burung ini diolah menjadi kue, dipanggang, ataupun diolah menjadi rebusan.

Merpati penumpang adalah sumber makanan yang sangat penting bagi suku Seneca sehingga mereka menamakannya jah’gowa, atau “roti besar.” Sayangnya, burung Amerika Utara itu terlalu enak untuk dibiarkan. Perburuan, ditambah dengan hilangnya habitat dan makanan, mengurangi jumlah mereka dari hingga 3 miliar pada awal 1800-an menjadi hanya satu pada tahun 1900. Burung merpati penumpang terakhir bernama Martha, meninggal di Kebun Binatang Cincinatti di Ohio 1914.

Dikutip dari Forbes, Shapiro mengatakan bahwa manusia memburu  jutaan merpati penumpang hanya dalam waktu ayng relatif singkat. Mereka tak punya cukup waktu untuk beregenerasi, dan beradaptasi dengan lingkungan baru dimana eksploitasi berlebihan dilakukan predator yang sangat terampil yang manusia. Akhirnya, mereka tak mempunyai kemampuan yang efisien untuk bertahan dan berkembang.


Pir Ansault

Illustration of Ansault pear from “The Pears of New York” dari Wikimedia Commons

Terdapat ribuan jenis buah pir yang hilang, dan kebanyakan dilupakan atau terlewatkan. Dikutip dari Toronto Star , Pir Ansault ditanam di sebuah impyard di pembibitan M. André Leroy di Angers, Prancis, dan dipetik pertama kali pada tahun 1863. Didalam buku “The Pears of New York,” pada tahun 1917 Hendrick menulis, “daging buahnya luar biasa, dan digambarkan dengan kata mentega, begitu umum dalam bahasa pir, lebih baik daripada pir lainnya. Rasa manis yang kaya, dan parfum yang berbeda namun lembut berkontribusi untuk membuat buah dengan kualitas terbaik.”

Saat pertama kali menemukan pir, Henry Williams dari American Pomological Association mengatakan bahwa itu adalah “salah satu pir paling enak dari luar negeri selama bertahun-tahun.” Orang akan mengharapkan kehebatan buah itu menjadi populer saat ini, ditemukan di taman dan kebun, dihargai oleh koki dan tersedia secara luas di toko-toko. Sayangnya, tidak. Pir Ansault sudah tidak dapat ditemukan lagi.

Apa sih yang terjadi pada Pir Ansault? Buah Pir Ansault terdaftar sebagai buah yang punah atau hilang dalam katalog pir. Walaupun kita masih memiliki beberapa lukisan buah pir yang sangat bagus dan beberapa koleksinya, sudah tidak ada lagi pohon pir Ansault yang masih tersisa maupun bibitnya yang kita bisa tanam didunia.

Pohonnya yang tidak teratur dan munculnya pertanian komersial berkontribusi pada punahnya buah Pir Ansault. Pohon pir Ansault tidak praktis untuk tumbuh di kebun besar, dan petani komersial tidak tertarik membuang-buang waktu pada keharusan menanam pohon ini ketika varietas pir lain tersedia untuk mereka. bembibitan berhenti menanam pir Ansault dan menghilang di awal abad ke-20.


Great Auk

Great Auk muncul sebagai spesies sekitar 5 juta tahun yang lalu, jauh sebelum manusia purba mulai menjelajahi daratan. Mereka terlihat dan berperilaku sangat mirip penguin, meskipun mereka tidak berkerabat sama sekali.

Great Auks tidak hanya diburu untuk diambil dagingnya. Lemak dan telur mereka juga sangat diminati, dan bulu mereka juga yang menarik perhatian digunakan untuk bahan pakaian dan aksesoris. Pada awal abad ke-19, sebuah industri yang mengolah burung ini berkembang pesat dan mengarah kepada kepunahan spesies pada pertengahan abad ke-19.

Dari bukti-bukti fosil yang ditemukan, menunjukkan bahwa Neanderthal memasak burung-burung yang tidak bisa terbang di atas api unggun sejak 100.000 tahun yang lalu. Orang-orang Beothuk yang sekarang bernama Newfoundland, Kanada, menggunakan telur auk yang enak untuk membuat puding.


 Nah kawan itulah akhir dari list 9 bahan makanan yang sudah punah. Sayang banget kan hewan dan tanaman diatas punah karena kelalaian manusia dalam berburu dan melestarikannya. Semoga artikel ini memberikan sedikit gambaran dalam hal yang bahan mankanan yang sudah punah sehingga kita sebagai manusia dapat berlajar dari kesalahan itu dan bertindak lebih baik dimasa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *