December 3, 2022

Kesurupan: Gangguan Dedemit Atau Penyakit?

Kamu pasti pernah melihat seseorang yang mengalami kesurupan. Atau mungkin kamu sendiri pernah mengalaminya?

Di Indonesia, fenomena kesurupan kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis. Banyak masyarakat percaya bahwa kerasukan terjadi karena jin atau hantu masuk ke dalam raga manusia. Tak jarang fenomena ini malah dijadikan ajang hiburan. Misalnya, di Youtube kini banyak channel-channel indigo yang sengaja mengunjungi tempat angker agar mereka kesurupan. Bahkan, mereka sampai mewawancarai roh yang dipercaya merasuki tubuhnya.

Tapi, apakah benar kesurupan itu ulah jin dan hantu?

Kesurupan ditinjau dari sudut pandang medis 

Fenomena kesurupan atau kerasukan ini sebenarnya sudah dipelajari di dunia medis sejak dahulu. Dalam dunia medis, fenomena kesurupan disebut dengan Dissociative Trance Disorder atau DTD. Ini merupakan salah satu gangguan mental yang menyebabkan pengidapnya merasakan dirinya menjadi orang lain seperti Dissociative Identity Disorder.

Makanya, jika ada seseorang yang mengalami kerasukan, dia akan mengaku sebagai orang lain, atau bahkan hewan tertentu.

Dilansir dari CNN, menurut Dokter spesialis bedah saraf, Ryu Hasan, kesurupan terjadi akibat adanya aktivitas di dalam otak kita yang meliputi emosi, motorik, dan juga memori. Jika dipandang dari sisi neurosains, kesurupan murni terjadi akibat aktivitas yang terjadi di dalam otak. Itu bukan karena ada zat mistis yang ingin merasuki tubuh.

Kesurupan ini melibatkan memori manusia. Apa-apa saja yang pernah terekam di dalam alam bawah sadar biasanya akan diputar ulang atau diperagakan oleh orang yang mengalami kerasukan. Misalnya, seseorang yang pernah melihat harimau berarti mempunyai memori mengenai harimau di dalam otaknya. Kemudian, otak akan menyuruh tubuh untuk memperagakan seperti bagaimana hewan tersebut.

Ketika mengalami kesurupan, otak seseorang tersebut akan menggali memori ini dan memerintahkan tubuh untuk memperagakannya. Maka, kata Ryu, tidak mungkin seseorang yang belum pernah melihat kangguru mengaku menjadi seekor kangguru ketika ia kesurupan. 

Hormon dopamin

Ketika seseorang mengalami kesurupan, otak seseorang tersebut sebenarnya dipenuhi oleh hormon oksitosin dan hormon dopamin yang berlebihan. Oleh karena itu, otak akan kewalahan dengan segala macam emosi yang bercampur aduk.

Namun, di sisi lain, hormon dopamin akan menyebabkan seseorang menjadi rileks dan tenang setelah kerasukan. Hal ini menimbulkan pendapat bahwa seseorang yang pernah mengalami kesurupan cenderung akan mudah mengalami kesurupan lagi. Ini karena mereka merasa ketagihan dengan perasaan rileks yang mereka dapatkan setelah kerasukan.

Attention seeker

Pernahkan terlintas di benak kalian, bagaimana jika kita mengalami kerasukan saat kita sedang sendiri di kamar tidur? Atau adakah seseorang yang pernah mengalami kerasukansaat dia benar-benar sedang sendiri?

Ternyata, gangguan mental Dissociative Trance Disorder ini kebanyakan dialami oleh orang-orang yang merasa bahwa dia dikucilkan dari kelompoknya. Sehingga, seseorang yang menderita DTD akan melakukan hal-hal yang dapat menjadikannya pusat perhatian. Jadi, sebenarnya kerasukan merupakan cara agar seseorang mendapatkan perhatian.

Tapi, bagaimana dengan kesurupan masal?

Banyak sekali kasus di mana kesurupan menular dari satu orang ke orang lain. Hal ini sebenarnya juga termasuk peristiwa mencari perhatian. Ketika seseorang kesurupan, alam bawah sadar orang-orang yang berada di sekelilingnya menganggap bahwa mereka juga akan mendapat perhatian yang sama. Terlebih jika orang-orang tersebut sudah mengenal konsep kesurupan dari segi mistis seperti di Indonesia. Mereka akan lebih mudah untuk “ikut-ikutan”.

Jika sejak kecil seseorang sudah diperkenalkan dengan hantu dan diajarkan bahwa kerasukan disebabkan oleh hantu, maka alam bawah sadar tersebut akan mencatat konsep tersebut. Jadilah mereka lebih mudah kerasukan ketika melihat orang lain kesurupan.

Apa saja gejalanya?

Seseorang yang sedang mengalami kesurupan biasanya mengalami gejala-gejala yang mirip dengan seseorang yang mengidap gangguan mental lain seperti skizofrenia, amnesia disosiatif, dan sindrom Tourette. Namun kurang lebih gejala Dissociative Trance Disorder adalah  sebagai berikut:

  1. Perilaku yang tidak normal dan lain dari biasanya.
  2. Tindakan yang tidak terkontrol.
  3. Mengaku sebagai orang lain atau kehilangan identitas.
  4. Kehilangan kesadaran akan lingkungan sekitar.
  5. Nada suara yang berubah.
  6. Konsentrasi menurun.
  7. Ingatan hilang sementara.

Apa yang menyebabkan kesurupan?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesurupan. Salah satunya adalah faktor trauma psikologis.

Sebuah penelitian di Uganda dilakukan untuk meneliti apakah trauma kekerasan berpengaruh terhadap kerasukan. Penelitian tersebut mengambil orang-orang yang pernah diculik ketika masih anak-anak dan dipaksa berperang. Mereka kemudian dibandingkan dengan orang-orang normal pada umumnya.

Hasil dari penelitian tersebut mengungkapkan bahwa mereka yang pernah diculik dan mengalami trauma kekerasan mengalami kerasukan lebih sering dari pada orang-orang yang belum pernah mengalami trauma kekerasan.

Selain itu, orang yang memiliki suicidal thoughts atau keinginan bunuh diri yang tinggi juga berpotensi mengalami kerasukan. Hal ini juga berlaku terhadap orang-orang yang pengidap PTSD atau post-traumatic disorder.

Namun, dari sisi medis, sejauh ini penyebab kesurupan masih perlu diteliti lebih jauh lagi.

Cara menangani kesurupan secara medis

Jika kamu sering mengalami kesurupan atau mempunyai orang terdekat yang menderita penyakit ini, disarankan agar segera menemui dokter. Biasanya, dokter spesialis kejiwaan akan memeriksa pasien dengan menggunakan serangkaian tes.

Tes ini ditujukan agar dokter mengetahui gejala apa saja yang dirasakan, seberapa sering hal tersebut terjadi, dan perubahan perilaku seperti apa yang dialami. Dokter juga biasanya akan membicarakan atau menanyakan trauma yang pernah dialami pasien. Dalam pemeriksaan ini, dokter juga biasanya menanyakan beberapa pertanyaan kepada orang-orang yang dekat dengan pasien. 

Untuk mengetahui apakah ada masalah pada kepala pasien, dokter biasanya akan melakukan tes pencitraan. Dokter juga akan bertanya mengenai kehidupan pasien, seperti bagaimana lingkungan keluarga pasien dan apakah pasien memiliki riwayat gangguan mental atau tidak.

Betul sekali. Dalam dunia medis, pasien yang mengalami kesurupan akan diperlakukan sama seperti halnya pasien yang mengidap gangguan disosiatif lainnya. Dokter akan memberikan obat seperti antidepresan, anti kecemasan, dan antipsikotik guna meredakan gejala kesurupan.

Selain itu, dokter juga akan menawarkan psikoterapi yang meliputi konseling, terapi psikososial, dan juga terapi wicara. Psikoterapi ini akan membantu pasien untuk memahami stress yang dialaminya serta bagaimana cara mengatasinya.

Apakah wanita lebih berisiko mengalami kesurupan?

Coba kamu ingat-ingat. Dari beberapa kasus kesurupan yang pernah kamu lihat, baik secara langsung maupun di media sosial, apakah kebanyakan dari mereka laki-laki atau perempuan?

Ternyata, perempuan memang berisiko lebih tinggi mengalami kerasukan dari laki-laki. Hal ini dikarenakan perempuan lebih mudah dipengaruhi daripada laki-laki. Sedangkan, berdasarkan usia, remaja dan orang-orang yang berada di usia muda lebih banyak mengalami kerasukan dibandingkan anak-anak atau orang lanjut usia.

Penyebab wanita lebih banyak mengalami kerasukan dibanding pria memiliki banyak penyebab. Diantaranya, wanita pada umumnya memiliki sifat labil. Tidak hanya itu, tetapi hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi keluarga, hubungan pertemanan, pergaulan, sekolah, dan sebagainya.

Kesurupan dapat berujung kematian

Banyak hal yang menyepelekan fenomena kesurupan. Bahkan, tak jarang orang-orang malah menjauhi orang yang mengidap gangguan mental ini. Padahal, hal ini harus segera ditangani, apalagi kasus yang berulang sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasalnya, kesurupan dapat menyebabkan kematian.

Berikut beberapa kasus tragis dimana kesurupan menyebabkan kematian:

1.  Kisah Anneliese Michel

Potret Anneliese Michel

Pernah menonton film The exorcism of Emily Rose? Yup, film tersebut diangkat dari kisah nyata Anneliese Michel yang mengalami kerasukan parah. Ia beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Ia didiagnosis menderita epilepsi dan gangguan jiwa di umur 16 tahun. Awalnya, Annaliese ditangani secara medis, namun kondisinya malah semakin parah. Ia meminum air kencingnya sendiri, merangkak, hingga memakan laba-laba.

Orang tua Anneliese percaya bahwa putrinya itu kerasukan iblis. Mereka kemudian memanggil pendeta untuk melakukan pengusiran setan. Namun, kondisi Anneliese tak kunjung membaik. Mulai pasrah dengan keadaan, orang tua Annelise mulai berhenti mengobati anaknya. Anneliese kemudian meninggal setelah 67 ritual pengusiran setan yang gagal. Ia dipercaya dirasuki oleh 6 iblis yang menyebabkannya meninggal.

2Kisah Michael Taylor

Foto Michael Taylor, pria kesurupan yang membunuh sang istri, Christine

Fenomena kesurupan dapat membahayakan dan mengancam nyawa. Bukan hanya orang yang kesurupan saja, namun juga orang-orang di sekitarnya juga terancam. Michael Taylor, pria asal Inggris, membunuh istrinya yang bernama Christine.

Taylor dan istrinya sangat religius. Namun, suatu waktu Taylor menuduh sang istri berselingkuh dengan pemimpin gereja bernama Marie Robinson. Karena hal tersebut, Taylor mulai berperilaku tidak wajar dan kepribadiannya berubah. Sang istri dan beberapa orang terdekatnya bersaksi bahwa Taylor mengalami kerasukan.

Christine kemudian memanggil pendeta untuk melakukan ritual pengusiran setan yang dipercaya merasuki Taylor. Pendeta yang melakukan pengusiran berkata bahwa 40 setan yang berada di dalam tubuh Taylor sudah dikeluarkan, namun setan tersebut bisa saja datang dan merasuki Taylor lagi sewaktu-waktu.

Beberapa hari setelahnya, Taylor ditemukan telah membunuh dan memutilasi istrinya. Anjing peliharaan Taylor juga ditemukan mati dicekik. Taylor ditemukan berlumuran darah di jalanan. Sempat ditahan, ia kemudian dikeluarkan dari penjara karena didiagnosa sakit jiwa.

3Kisah mahasiswa yang tewas karena kesurupan

Jenazah Fabianus Hele Bere yang meninggal akibat kesurupan

Di tahun 2017, Fabianus Hele Bere, mahasiswa asal Kupang meninggal di kamar kosnya karena kesurupan. Menurut kakak korban, korban sempat mengamuk dan membantingkan diri ke lantai. Ia juga sempat berkata ketika kerasukan bahwa ia akan meninggal pada pukul 06.00 Wita. Fabianus terus berontak meski sudah ditenangkan oleh teman-temannya. Ia kemudian meninggal pada pukul 06.00 Wita.

Lantas bagaimana dengan praktik pengusiran setan?

Fenomena kesurupan memang bisa dijelaskan secara medis. Meskipun penyebabnya harus diteliti lebih lanjut lagi, kesurupan dapat ditangani secara medis. Namun, berkaitan dengan budaya dan kepercayaan, beberapa orang memilih untuk pergi ke orang pintar atau paranormal untuk mengobati kerasukan.

Siswanto, pengajar ilmu psikologi Universitas Katolik Soegijapranata  Semarang, berpendapat bahwa membawa pasien ke paranormal bukanlah hal yang tepat karena paranormal biasanya mengobati orang yang kesurupan dengan cara dibentak atau dipukul. Menurut Siswanto, do’a yang dibacakan saat pengusiran setan haruslah do’a yang dapat memberikan rasa tenang, bukan ketakutan.

Kesimpulannya, dari sisi medis, kita tidak bisa menyalahkan jin atas fenomena kesurupan. Terkadang, hal tersebut murni disebabkan adanya masalah pada diri seseorang. Oleh karena itu, jika kamu memiliki masalah rumit, jangan memendamnya sendiri. Segeralah cari bantuan dari orang-orang terdekat, baik itu keluarga, teman, atau bahkan bantuan dari psikolog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *