December 3, 2022

Karya Sastra Paling Berpengaruh di Era Sturm und Drang

Oleh: M. Fayyadh Muyassar

Apa itu Seni?

Seni merupakan karya yang terikat erat dengan keindahan dan perasaan. Kata seni, atau dalam bahasa inggris art, merupakan neologisme yang memanfaatkan kata seni dalam artian kecil yang sudah ada dalam bahasa melayu umum. Seni juga bisa diartikan sebagai karya yang bermutu, yang dilihat dari sisi keindahan, fungsi, bentuk, dan lain sebagainya. Karya seni juga sering dikaitkan dengan Karya Sastra.

Dalam sejarahnya, seni berkaitan erat dengan karya sastra, karena keduanya merupakan karya manusia yang terikat dengan unsur keindahan dan perasaan. Karya sastra sendiri merupakan sebuah karya yang diciptakan oleh pelaku zaman tertentu, sehingga karya-karya tersebut dapat menjadi cerminan dari keadaan sosial dari masa karya tersebut dibuat. Karya sastra sendiri juga menjadi curahan hati dan perasaan penulis, hal ini menjadi penting karena perbedaan karya sastra juga dipengaruhi oleh sastrawan yang membuatnya.

(https://artsandculture.google.com/entity/sturm-und-drang/m0d5_sg)

Periode Kesastraan

Dalam konteks kesastraan Jerman, banyaknya jenis karya sastra membuat karya-karya tersebut harus dibagi menjadi berbagai era kesastraan atau dalam bahasa Jerman disebut sebagai Deutsche Literaturepochen. Nah, kenapa sih karya-karya tersebut dibagi kedalam masa-masa tertentu? Hal tersebut utamanya disebabkan oleh gejolak-gejolak dalam masyarakat, atau sejatinya lebih dikenal dengan Zeitgeist.

Salah satu periode yang menarik untuk dibahas salah satunya adalah era Sturm und Drang. Periode ini adalah sebuah dobrakan dalam pembuatan karya sastra. Karya-karya sastra pada masa sebelum ini menggunakan sebuah pedoman pasti, lebih ke kaku yang digunakan untuk penulisan karya sastra. Nah, Para penulis Era Sturm und Drang, tidak memperdulikan semua pertaturan ini, lalu membuat karya yang beraliran bebas. Mereka mulai tidak peduli dengan aturan sebelumnya dan mulai membuat Gerakan yang memprotes segala sesuatu yang berhubungan dengan otoritas absolut, juga orang-orang borjuis.

Kenapa Era Sturm und Drang ini penting? Banyak penulis seperti Goethe ataupun Schiller, hidup di zaman ini. Walaupun mereka tidak hanya berkarya di era ini, namun beberapa karya dari mereka sangatlagh berpengaruh, hinga sampai-sampai bisa mengubah sejarah lho! Nah Karya-karya seperti apa yang paling berpengaruh pada zaman ini? Langsung aja yuk simak di bawah ini!

(https://alchetron.com/cdn/sturm-und-drang-e58bcaeb-187c-4050-89d0-f09083a00f5-resize-750.jpeg)

Karya Sastra yang mengubah Sejarah

Karya sastra dalam kesuastraan Jerman pun tidak hanya ada satu jenis. Secara garis besar, mereka terbagi menjadi tiga kategori besar yaitu Epik, Dramen, dan Lyrik. Epik, seperti Namanya, berfokus pada cerita-cerita panjang seperti Novel dan Roman. Dramen, dapat disimpulkan juga sebagai Drama. Keduanya memang mirip-mirip sih, tapi ada perbedaan yang mencolok diantara keduanya. Kalau Dramen lebih berfokus pada satu peristiwa ataupun kejadian, sedangkan Roman menceritakannya dengan lebih mendetail. Oh iya, dalam Dramen, diperlukan juga pementasan, seringkali diiringi sebuah lagu dan ada juga pemerannya. Lyrik, juga dapat disimpulkan secara literal. Berarti, kategori yang menyangkup Lyrik adalah Puisi, Ballad, Lagu, dan sebagainya.

Untuk era Sturm und Drang sendiri, karya seperti apa saja sih yang paling banyak digunakan? Menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui pula bahwa setiap zaman juga memiliki tendensi kekaryaan yang berbeda-beda. Contohnya zaman Pencerahan yang lebih banyak karya yang berjenis Epik. Untuk zaman Sturm und Drang sendiri tendensi kekaryaannya adalah Lyrik yang bertemakan Cinta dan Alam.

Karya seperti apa sih yang tergolong penting di zaman Sturm und Drang ini? Yuk langsung simak di bawah ini!

Johann Wolfgang Von Goethe – Willkommen und Abschied

(https://www.friedrich-verlag.de/fileadmin/user_upload/tx_vcfvhefteundartikel/52273-005/52273-005_5220-4723.jpg)

Karya pertama yang ini saya bahas adalah salah satu karya paling terkenal dari penulis paling tersohor dari Jerman. Siapa lagi kalau bukan Johann Wolfgang von Goethe. Penulis yang lebih sering dipanggil Goethe ini membuat sebuah puisi yang bertemakan cinta. Puisi ini dimulai dengan penggambaran alam sekitar, seperti malam yang menyelimuti gunung, dan kegelapan yang muncul dari lebatnya hutan. Bait kedua mulai menceritakan tentang seuasana hati si tokoh utama. Lalu bait ketiga barulah menceritakan bagaimana perumpamaan cinta itu sendiri, bagaimana hatinya hanya untuknya seorang dan bagaimana si tokoh utama merasa tidak pantas mendapatkannya. Untuk selengkapnya, sobat bisa langsung saja membaca penggalan puisi tersebut dibawah.

You I saw, your look replied,
Your sweet felicity, my own,
My heart was with you, at your side,
I breathed for you, for you alone.
A blush was there, as if your face
A rosy hue of Spring had caught,
For me-ye gods!-this tenderness!
I hoped, and I deserved it not.

Yet soon the morning sun was there,
My heart, ah, shrank as leave I took:
How rapturous your kisses were,
What anguish then was in your look!
I left, you stood with downcast eyes,
In tears you saw me riding off:
Yet, to be loved, what happiness!
What happiness, ye gods, to love!

Nah, untuk selengkapnya sobat bisa langsung baca aja di sini.

Puisi tersebut lumayan menggambarkan bagaimana kekhasan zaman ini, memang bertemakan perasaan dan tidak memperdulikan logika. Logika-logika dalam karya sastra periode ini bisa dikatakan benar-benar dilempar keluar jendela.

Friedrich Schiller – Die Räuber

Untuk karya kedua ini merupakan sebuah Drama atau Play, yang masih bertemakan Cinta. Plot yang ada dalam Drama die Räuber atau Si Pencuri ini, berputar di sebuah konflik antara dua aristokrat bersaudara yang bernama Karl dan Franz Moor. Karl merupakan anak yang karismatik dan sedikit membangkan, akan tetapi meski begitu, Ia sangat dicintai oleh ayahnya. Adiknya yang lebih muda, Franz, yang berkarakter dingin dan sangat perhitungan, mencoba untuk mengambil harta warisan Karl. Di dalam Drama ini, motif Franz dan kepolosan dan heorisme Karl ditampilkan dengan kompleks.

(https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b5/Schiller_liest_die_R%C3%A4uber_vor.jpg)

Friedrich Schiller mengangkat banyak tema-tema yang mengganggu dalam Play ini. Misalnya, ia mempertanyakan batasan akan kebebasan personal dan hukum, juga bagaimana kekuasaan merusak karaktar orang. Topik lain yang juga diangkat dalam die Räuber ini adalah Sifat dari maskulinitas dan perbedaan yang mencolok dari Good and Evil. Friedrich Schiller, dalam membuat karya ini, banyak terinspirasi dari Drama lainnya, yaitu Julius of Taranto, yang dibuat pada tahun 1774, oleh penulis dari Hannover bernama Johann Anton Leisewitz.

Johann Wolfgang von Goethe – Prometheus

(https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/5b/Heinrich_fueger_1817_prometheus_brings_fire_to_mankind.jpg)

Kita kembali dipertemukan dengan penulis tersohor ini. Goethe menciptakan karya yang cukup kontroversial di zamannya. Dalam puisi ini, Prometheus berbicara dengan tuhan, yang didepiksikan sebagai Zeus, dengan penuh tuduhan dan kebencian. Berikut penggalan dari puisi Prometheus ini.

While yet a child,
And ignorant of life,
I turned my wandering gaze
Up toward the sun, as if with him
There were an ear to hear my wailings,
A heart, like mine,
To feel compassion for distress.

Who helped me
Against the Titans’ insolence?
Who rescued me from certain death,
From slavery?
Didst thou not do all this thyself,
My sacred glowing heart?
And glowedst, young and good,
Deceived with grateful thanks
To yonder slumbering one?

Untuk melihat puisi ini secara lengkap, sobat bisa langsung melihatnya di sini.

Nah, walaupun scenario pada puisi ini adalah klasik, terdapat Biblical God yang disinggung disini. Kalimat ini ada di Bait ke tiga dari puisi tersebut. Prometheus yang digambarkan oleh Goethe tidak percaya pada hati ilahi yang membuatnya tidak tergerak untuk mengasihani orang yang lebih menderita darinya.

Johann Wolfgang von Goethe – die Leiden des jungen Werthers

Kembali lagi bersama Goethe. Kali ini beliau membuat sebuah novel yang bercerita tentang seorang pemuda yang merespon secara ekstrim terhadap cinta yang tak terbalaskan. Novel ini berbentuk penggalan surat-surat yang ditulis oleh Werther kepada temannya yang Bernama Wilhelm. Penggalan surat-surat ini menceritakan bagaimana Werther sangat terikat dengan kampung halamannya di desa Wahlheim, dimana ia bertemu dengan Charlotte, seorang gadis cantik yang merawat adik-adiknya setelah kematian ibunya. Werther jatuh cinta kepada Charlotte, walaupun ia mengetahui bahwa Charlotte telah bertunangan dengan seorang pria bernama Albert, yang lebih tua sebelas tahun darinya. Hal ini membuat adanya sebuah cinta segitiga antara Albert, Charlotte, dan dirinya sendiri.

Naasnya, si Werther ini mengambil cara paling ekstrim yang ia tahu untuk menyelesaikan masalah ini. Ia beranggapan bahwa seseorang dari mereka bertiga harus mati demi menyelesaikan masalah cinta segitiga ini. Werther tidak bisa melukai orang lain, apalagi mempertimbangkan soal membunuh orang lain. Setelah beberapa pertimbangan, ia memilih untuk mengambil nyawanya sendiri. Werther meminta Wilhelm untuk memberikannya pistol dengan ala an untuk berkelana. Charlotte yang mengetahui hal ini dengan berat hati mengijinkan Albert memberikan Werther sebuah pistol. Sesuai rencananya, Werther pun menembak dirinya sendiri setelah meninggalkan pesan wasiat. Naasnya, si Werther ini tidak mati setelah dua belas jam lamanya. Werther dikubur dubawah dua pohon Linden yang terus-menerus ia sebutkan dalam wasiatnya. Charlotte dan Albert pun dengan berat hati tidak menghadiri pemakamannya. Buku ini diakhiri dengan sebuah isyarat, bahwa Charlotte mungkin menyusulnya mati karena hatinya telah terluka:

“I shall say nothing of…Charlotte’s grief. … Charlotte’s life was despaired of.”

(https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTP76QwTq80OAqsHQwXoiX5KZ_lHZ_OwAzWgQ&usqp=CAU)

Buku ini menceritakan tentang cara radikal sebagai penghindaran dari suatu masalah. Karya ini juga membuat seorang Goethe menjadi sastrawan paling sensational dalam kurun waktu yang singkat. Banyak yang mengaggap buku ini merupakan karya paling berpengaruh sepanjang sejarah kesastraan Jerman. Namun, hal ini tidak membuat dampak yang baik bagi masyarakat. Buku ini menyebabkan suatu fenomena yang disebut sebagai “Demam Werther”. Singkatnya, banyak pemuda yang mungkin patah hati, memilih bunuh diri sebagai jalan keluar terbaiknya. Mereka berpakaian seperti Werther dalam novel tersebut, lalu membunuh diri mereka dengan pistol yang mirip dengan pistol yang dipakai Werther untuk membunuh dirinya. Beberapa kejadian juga melaporkan bahwa Buku Die Leiden des jungen Werthers ditemukan di tempat kejadian bunuh diri. Akhirnya, Buku ini dilarang untuk diterbitkan di Jerman, Denmark, dan Italia.

Johann Wolfgang von Goethe – Vor Gericht

Goethe memang tak lepas dari puisi yang mengangkat tema kontroversial. Dalam puisinya yang dibuat pada tahun 1776 yang berjudul Vor Gericht, Goethe mengangkat tema pembunuhan bayi sebagai dasar dari puisinya. Hal ini merupakan gejolak di masyarakat yang terjadi akibat banyaknya aborsi dan pembunuhan bayi yang tidak diinginkan di seantero Jerman. Puisi ini menggambarkan bagaimana bahwa menyakitkan juga bagi ibu dari sang anak untuk melepas anaknya yang masih dalam kandungannya.

The child inside me, whose it is

I won’t be telling you.

You spit on me and call me whore,

I’m an honest woman and true.

I won’t be telling you who he is,

My truelove, kind and good,

Be there a gold chain on his neck

Or a straw hat on his head.

If there is mockery and scorn,

I’ll bear the scorn alone.

I know him well, he knows me well:

To God it’s all well-known.

So, reverend Sir, your Honour too,

Leave me in peace, I pray:

You serve me not. This child is mine,

Is mine, and mine shall stay.

Pada masa itu, aborsi masih dianggap sebagai hal yang tabu, karena masih berfokus pada kekejian pembunuhan dan tidak pada konflik emosional ibunya. Goethe secara berani mengangkat tema ini, dan membuat kesadaran pada masyarakat bahwa kekejian bukanlah satu-satunya faktor yang berperan dengan maraknya pembunuhan bayi yang ada di Jerman.

Bagaimana menurut sobat? Sebenarnya masih banyak sekali karya yang berpengaruh pada zaman ini, dengan tema-tema kontroversial yang diangkatnya. Namun, bila dipersingkat, karya-karya di atas sudah bisa mencerminkan keadaan periode Sturm und Drang yang lebih mengutamakan perasaan dan emosi ketimbang dengan logika.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai Museum unik yang ada di dunia? Sobat bisa langsung aja cek artikel selanjutnya yang berjudul Most bizarre museums on earth that you don’t know exist!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *