December 3, 2022

Bagaimana Cara Mengatasi Culture Shock ketika berada di Daerah Wisata

Source : https://jurnalpalopo.pikiran-rakyat.com/gaya-hidup/pr-43735754/perbedaan-culture-shock-antara-indonesia-dan-korea-selatan-yang-wajib-kamu-ketahui

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budia atau akal), diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Bentuk lain dari kata budaya adalah kultur yang berasal dari bahasa Latin yaitu cultura. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Seseorang bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka, sehingga membuktikan bahwa budaya bisa dipelajari. Budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sementara itu, perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang semuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Pengertian dan Penjelasan Culture Shock, Gegar dan Kejutan Budaya

Gegar budaya atau shock culture adalah suatu bentuk adanya kebingungan atau adanya disorientasi yang muncul pada saat kita memasuki lingkungan baru dengan budaya yang berbeda-beda dari lingkungan asalnya. Adanya perubahan-perubahan yang dialami oleh seseorang individu yang berada dilingkungan berbeda dari sebelumnya, tentunya akan membuat seseorang individu itu akan mudah mengalami stress. Terutama dengan adanya perubahan struktur, interaksi, dan komunikasi sosial yang berlangsung secara berbeda dari daerah asal lingkungan seseorang individu tersebut, apalagi berbeda latar belakang yang beragam. Culture shock atau gegar budaya dapat juga diartikan sebagai perasaan yang gelisah, cemas, bingung, dan juga cemas yang dialami oleh seseorang yang baru menempati suatu daerah atau wilayah baru dalam waktu yang cenderung lama.

Menurut Samovar, Richard dan Edwin (2010) mengatakan individu yang mengalami perubahan yang menyebabkan seseorang stress itu yang disebutnya sebagai gegar budaya. Artinya, gegar budaya yaitu ketidaknyamanan yang dirasakan individu termanifestasikan sebagai perasaan terasing, menonjol, berbeda sehingga memunculkan kesadaran akan adanya ketidakefektifan pola perilaku baru dengan lingkungan lama yang diterapkan di lingkungan barunya. 

Manusia sebagai mahluk sosial pastinya akan selalu menjalin interaksi dan komunikasi sosial antar sesama manusia. Sesama individu akan terus berkomunikasi dan berinteraksi sesuai dengan kebutuhan hidup dan lingkungan sosialnya. Lalu, seseorang individu akan mengalami culture shock, gegar atau kejutan budaya saat ia masuk dalam habitat yang berbeda dari tempat ia tinggal sebelumnya. Perasaan ini timbul akibat kesukaran dalam asimilasi kebudayaan baru, menyebabkan seseorang sulit mengenali apa yang wajar dan tidak wajar. Sering kali perasaan ini digabung dengan kebencian moral atau estatik yang kuat mengenai beberapa aspek dari budaya yang berlainan atau budaya baru tersebut.

Menurut Hall (1959), Ia menyebut gegar budaya adalah sebagai sebuah gangguan pada semua hal yang biasa dihadapi di tempat asal menjadi sangan berbeda dengan hal baru yang dihadapi di tempat atau lingkungan baru dan asing. Selanjutnya, Oberg (1960) melakukan penelitian perihal gegar budaya dengan cara menggambarkan respon yang mendalam dan menunjukkan adanya ketidakmampuan yang dialami oleh seorang individu.  Seperti dilingkungan baru, yang mana ketidakmampuan itu terjadi pada kognitif, sehingga menyebabkan gangguan pada identitas. Menurutnya, gegar budaya merupakan reaksi emosi terhadap perbedaan budaya yang tidak terduga dan terjadi kesalahpahaman pada pengalaman berbeda-beda. Disinilah yang mengakibatkan munculnya perasaan yang tidak berdaya, mudal terpancing emosi, takut akan dibohongi, dan dilukai serta diacuhkan Gegar budaya merupakan bagian penelitian dalam komunikasi antara budaya. Saat ini sebagian peneliti menunjukkan bahwa gegar budaya memberikan banyak keuntungan, seperti meningkatkan jati diri seseorangdan membantu meningkatkan motivasi diri.

Cara untuk mengatasi Culture Shock Ketika berada di Tempat Wisata

Di kala liburan ataupun berkunjung ke Objek Wisata, Pasti banyak juga yang pernah mengalami culture shock. Kebiasaan, budaya, bahkan bahasa yang berbeda 180 derajat dengan kita membuat bingung, kaget, bahkan cemas dan stres. Apa yang harus dilakukan saat hal ini terjadi? Berikut Penjelasannya di bawah ini

1. Googling dan Pahami Perbedaan Budaya di Tempat Wisata Tujuan

Source : https://travelingyuk.com/culture-shock-saat-traveling/254948

Hal pertama yang harus  dilakukan adalah mencari tahu tentang daerah yang bakal dituju. Kalian bisa menelusurinya via internet, terutama pada website atau aplikasi khusus traveling. Kalian juga bisa mencari Referensi melalui Buku ataupun menonton Video melalui Youtube, sehingga kalian akan mendapat Gambaran mengenai kebudayaannya. Beberapa hal ini bisa menjadi acuan awal dari rencana perjalanan ke tempat yang akan dituju.

2. Diskusi dengan Orang yang Sudah Pernah ke Sana

Source : https://cewekbanget.grid.id/read/06876236/gebetan-nge-chat-lagi-ngapain-balas-dengan-8-ide-balasan-yang-flirty-berikut?page=all

Sebagai Calon Wisatawan, nggak salah kalau kita mencari seseorang yang pernah berkunjung atau bahkan menetap di tempat tujuan kalian nanti. Bisa dari teman, kerabat,dosen,guru atau para senior di lingkungan sekitar kita. Cobalah membangun diskusi dan bertanyalah tentang banyak hal seputar daerah atau negara tersebut. Agar nantinya kalian akan mendapatkan gambaran yang lebih luas lagi untuk menjadi bekal perjalanan kalian. Dengan latar belakang yang berbeda bisa membuat kamu kurang paham tentang lingkungan wisata yang baru. Dari gambaran yang sudah kamu dapatkan sebelumnya, kamu bisa saling bertukar informasi dan bertanya satu sama lain agar bisa saling mengenal. Kamu juga bisa bertanya dengan temanmu yang berasal dari lingkungan yang sama dengan tujuan wisata agar kamu bisa lebih memahami karakteristik daerah maupun orangnya dengan lebih baik.

3. Tetap Berusaha Untuk Berpikiran Terbuka

Source : https://www.kesslerrecruitment.com/post/ciri-orang-open-minded-dan-close-minded

Saat ada di lingkungan baru, hal yang bisa kamu lakukan adalah pembiasaan diri, karena kamu akan menemukan kebiasaan, gaya bicara, tingkah laku dan sebagainya yang ada di lingkungan tersebut. Kamu harus berlatih untuk melihat segala hal dari perspektif yang berbeda agar bisa menyesuaikan diri dan beradaptasi perlahan dengan lingkungan wisata yang kemudian membuat dirimu memiliki pemikiran yang lebih terbuka akan sesuatu.

4. Mengeksplorasi Lingkungan Sekitar lokasi wisata

Source : https://m.medcom.id/rona/keluarga/4baXn0rN-ini-dia-pentingnya-mendampingi-anak-bereksplorasi

Saat mulai berwisata, pasti kamu akan sering datang ke tempat-tempat tertentu yang memang digunakan untuk kegiatan wisata. Hal ini bisa membuat kamu merasa asing dengan tempat-tempat lain di daerah yang belum pernah kamu kunjungi. Kamu bisa mencoba mengeksplorasi lingkungan dekat tempat penginapan terlebih dahulu, seperti kantin, tempat ‘nongkrong’, café, perpustakaan, dan yang lainnya agar muncul perasaan yang lebih dekat dengan lokasi wisata. Setelah cukup mengenal lingkungan wisata, kamu bisa mencoba untuk eksplor lingkungan di luar lokasi tersebut, seperti mengunjungi mall atau tempat hangout lainnya.

5. Mulai Membangun Relasi atau Pertemanan

https://www.popbela.com/relationship/single/andhina-effendi/jika-ada-orang-tak-mau-berteman-denganmuSource :

Dengan berusaha untuk mengenal orang baru dan membangun pertemanan, maka kamu otomatis juga akan bisa saling berbagi perspektif. Memiliki teman di tempat tujuan wisatamu akan membantumu untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan wisata menjadi lebih mudah. Kamu bisa membangun pertemanan dengan orang yang memang asli dari daerah wisata tersebut atau yang juga berkunjung. Semakin banyak pertemanan yang kamu bangun, maka kamu akan merasa lebih siap untuk menghadapi perbedaan yang ada di tempat wisata. Dengan demikian, Kalian tidak akan merasa sendirian.

Selain itu, berteman dengan warga lokal sangat membantu kalian yang masih butuh beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Mereka akan memberikan berbagai macam informasi dan bahkan menolong kalian saat terjadinya gap budaya maupun bahasa.

6. Hindari Untuk Membandingkan Suatu Hal

Source : https://lifestyle.okezone.com/read/2018/04/06/196/1882936/4-kiat-jitu-agar-tak-lagi-membanding-bandingkan-diri-dengan-orang-lain

Dalam lingkungan baru, memang segalanya terasa berbeda. Kamu harus mencoba untuk hindari membandingkan lingkungan wisatamu yang baru tersebut dengan lingkungan tempat tinggalmu. Kamu juga harus menghindari untuk tidak membandingkan diri dengan temanmu atau orang lain karena masing-masing orang berbeda, begitupun dalam kemampuan beradaptasi. Karena kalian dituntut untuk mencoba melihat apa yang dimiliki mereka dari sudut pandang yang berbeda.

Dengan tidak membandingkan, akan merubah perspektif kamu dan membuat kamu bisa menerima segala hal baru di lingkungan wisata tersebut. Tidak ada lagi pemikiran seperti, “Ah, budaya mereka kok begini, tidak sesuai dengan budayaku!”. Yang seharusnya muncul adalah, “Wah ternyata mereka memiliki kebiasaan dan budaya yang unik. Keren sekali!”

7. Mencari Cara dalam Menghilangkan Stress

Source : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200914152710-255-546315/tanda-stres-yang-patut-diwaspadai-dan-cara-menghilangkannya

Saat proses adaptasi dengan lingkungan tempat wisata yang menimbulkan culture shock, kamu bisa saja menjadi stress. Saat hal ini sering terjadi dan kamu tidak berusaha mencari cara untuk menghilangkannya, maka akan membuat kamu makin sulit untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut. Kamu bisa mencari kegiatan saat dirasa mulai stress, seperti dengan berolahraga, meditasi atau bisa saja mencari cara baru dengan mencari referensi kuliner atau atraksi yang menjadi ikon atau ciri khas di daerah wisata tersebut.

8. Coba Berbaur, Salah Satunya dengan Belajar Bahasa Lokal

Source : /https://lpmpjateng.go.id/teknologi-menggerus-bahasa-lokal/

Mencoba belajar bahasa lokal milik daerah atau negara yang dituju, mengapa tidak? Ini sangat membantu Kalian dalam menjembatani gap yang muncul.

Apalagi, penduduk lokal akan sangat antusias bila ada wisatawan asing yang mau berbicara dengan bahasa mereka. Culture shock teratasi, koneksi pertemanan pun didapat, liburan kalian akan lancar dari awal hingga akhir. Untuk bisa terbiasa dengan lingkungan baru seperti tempat wisata  memang membutuhkan proses. Sebagai wisatawan baru, kamu harus menyadari hal ini, karena memang pada dasarnya untuk beradaptasi membutuhkan waktu. Jika kamu berhasil untuk menghadapi culture shock dan bisa beradaptasi dengan lingkungan tempat wisata, selalu ingat untuk terus tetap selektif dan jangan sampai kamu terbawa arus kebudayaan yang berakibat buruk dari lingkungan baru tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *