December 1, 2022

Apa Saja Sih, Hal-Hal Penting Yang Perlu Disiapkan Untuk Mengunjungi Taman Hutan Raya Ir. Haji Djuanda? Simak Penjelasan Berikut ini!

Pasti kalian gak asing kan sama yang namanya Hutan Raya Ir. Haji Djuanda atau yang sering disingkat Tahura Djuanda?

Yup, Tahura Djuanda adalah hutan raya yang berlokasi di Bandung, tepatnya di Ciburial, kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Ini adalah salah satu tempat bersejarah di Bandung. Luas area Tahura Djuanda ini sekitar 526,98 hektar. Di dalamnya tentu tidak hanya hutan, melainkan beberapa spot atau titik kunjungan.

Jadwal atau Jam Buka Taman Hutan Raya Ir. Haji Djuanda Bandung

Kalau kalian ingin menikmati seluruh tempat di Tahura Djuanda ini, kalian lebih baik datang pada saat pagi hari karena kalian akan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menguras habis tempat-tempat di dalam Tahura Djuanda ini. Tetapi, untuk kalian yang hanya ingin sekedar mengunjungi Tahura Djuanda ini, kalian bisa datang kapan saja sesuai jadwal buka Tahura Djuanda. Berikut jadwal buka Tahura Djuanda Bandung:

Senin               : 08.00 – 16.00 WIB

Selasa              : 08.00 – 16.00 WIB

Rabu               : 08.00 – 16.00 WIB

Kamis             : 08.00 – 16.00 WIB

Jumat             : 08.00 – 16.00 WIB

Sabtu              : 07.30 – 16.00 WIB

Minggu           : 07.30 – 16.00 WIB

Tiket Masuk

Untuk tiket masuknya, kalian Cuma perlu siapin uang antara Rp15,000,- sampai dengan Rp67,000,- saja. Untuk kalian Wisatawan Nusantara harus membayar tiket masuk sebesar Rp15,000,-. Nah, untuk kalian Wisatawan Mancanegara, kalian harus membayar tiket masuk sebesar Rp55,000,-. Jika kalian membawa kendaraan roda dua, kalian akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp6,000,- saja. Sedangkan juka kalian membawa kendaraan roda empat, kalian akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp12,000,-.

Oh iya, untuk kalian yang membawa kendaraan roda dua, ada baiknya kalian perhatikan bagaimana helm kalian disimpan. Jika kalian datang pada saat musim penghujan dan menyimpan helm kalian di motor dengan posisi terbalik ke atas, helm kalian akan menjadi “kolam”, hahaha.

Untuk gerbang Tahura Djuanda sendiri, sebenarnya ada dua. Untuk kalian yang berasal dari daerah kota Bandung, kalian bisa langsung mengunjungi Tahura Djuanda dari akses pintu masuk di Dago. Sedangkan untuk kalian yang berasal dari Bandung Utara, kalian bisa akses pintu masuk melalui gerbang Tebing Keraton.

Outfit atau Pakaian yang Direkomendasikan

Pakaian paling nyaman untuk datang ke sini adalah pakaian yang longgar, kenapa? Tentu saja karena kalian akan berjalan jalan di alam terbuka. Pakailah celana panjang seperti celana training atau celana joger. Tidak lupa kaos tangan panjang atau sweater atau bisa bawa jaket. Juga sepatu atau sendal gunung.

Di dalam Tahura Djuanda sendiri banyak banget loh nyamuk-nyamuk nakal (yah, namanya juga hutan raya ya). Direkomenasikan juga untuk membawa tas agar kalian gak ribet saat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Penting Banget Kalian Tahu

Kalian boleh bawa makanan dari luar, tapi jangan sampai kalian menenteng atau membawa makanan tersebut dengan keresek atau plastik atau semacamnya. Hah, kenapa tuh? Karena ini akan memancing para kera yang ada di Tahura Djuanda.

Jadi di Tahura Djuanda ini banyak banget kera liar yang berkeliaran di track atau jalan. Kadang mereka hanya melihat-lihat saja. Tapi tak jarang, jika kalian membawa keresek atau plastik atau semacamnya, para kera tersebut akan mendatangi atau mendekati kalian untuk mengambil apa yang kalian pegang. Jangan sampai deh dideketin kera-kera itu. Takutnya dicakar atau keresek kalian diambil deh sama mereka itu.

loh kalau gak bawa makanan gimana?” Tenang aja karena sebelum memasuki gerbang ada banyak tempat ngopi dan tempat makan tentunya. Setelah jalan sedikit dari gerbang menuju ke dalam pun ada kok tempat makan. Kalau pun nanti saat kalian sudah masuk ke dalam hutan, kalian akan menemui beberapa warung kopi di titik tertentu. Di sana, kalian bisa ngopi tentunya. Paling nikmat sih kalau kalian makan mie instan di sana. Rasanya beda banget loh. Sensasi makan mie instan di hutan, ditemani suara burung dan serangga serta gesekkan antara dahan, ranting juga daun menambah kenikmatan mie instan yang kalian makan di sana. Tidak lupa, ditemani beberapa jenis fauna yang ada di sana.

Ragam Flora dan Fauna

Karena tempat ini adalah taman hutan raya, pastiya banyak banget dong flora atau tumbuhan dan fauna atau hewannya, loh. Mulai dari flora dan fauna yang kecil banget sampai besar ada di dalam Tahura Djuanda ini loh. Tapi perlu diingat juga nih, terkadang, beberapa hewan dan tumbuhan hanya dapat ditemukan di satu tempat atau titik saja nih di dalam Tahura Djuanda ini.

Berdasarkan hasil investigasi tahun 2003, di Tahura Djuanda ini terdapat beberapa hewan seperti primata, burung, ayam hutan, tupai dan lainnya. Mari bahas satu persatu:

  • Kera Ekor Panjang (Macaca Fascicularis)

Sesuai namanya, satwa yang satu ini pastinya memiliki ekor yang panjang. Kera-kera ini banyak di temui di dalam Tahura Djuanda. Tak jarang mereka pun turun ke jalan, berada di pinggir jalan, sehingga sangat dekat keberadaannya dengan manusia. Tapi perlu diingat bahwa mereka adalah hewan liar yang pastinya mempunyai insting bertahan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan satwa yang dipelihara.

Mereka juga hidup berkelompok sehingga jika kita melihat mereka pastinya mereka selalu bersama sama dengan kawanannya. Kera-kera ini bisa berwarna abu-abu ataupun cokelat. Makanan kesukaannya adalah buah-buahan. Tinggi kera dewasa bisa mencapai 55cm dengan berat tubuh 3-9kg.

  • Burung Tekukur (Streptopelia Chinensis)

Sedangnya, burung ini berukuran 30cm dengan warna tubuh cokelat-merah jambu. Sepanjang track di Tahura Djuanda, kalian dapat mendengarkan suara indah dari burung pemakan biji-bijian ini.

  • Burung Kacamata Biasa (Zoeterops Palpebrosus)

Burung kecil ini berwarna zaitun di bagian atas, sedangkan bagian bawah tubuhnya tergantung dari perbedaan ras burung ini. Burung ini biasanya makan serangga, ulat dan telur semut. Burung-burung ini juga biasa bersautan satu sama lain untuk berkomunikasi.

  • Burung Perenjak Rawa (Prinia Flaviventris)

Burung kecil ini berukuran 14 sampai 16cm dengan berat tubuh antara 9 sampai 12 gram saja. Burung ini memiliki warna abu-abu di bagian kepala dan matanya, sedangkan anggota tubuh lainnya berwarna kuning zaitun kehijauan. Burung ini makan larva, lalat kecil, belalang, jangkrik dan serangga lainnya.

  • Burung Bondol Jawa (Lonchura Leucogastroides)

Burung pemakan biji-bijian ini hanya tumbuh sebesar 11cm. Para petani menganggap burung ini hama karena mereka memakan bulir-bulir hasil tanian. Memiliki warna cokelat di bagian atas tubuhnya, sedangkan di bagian bawah tubuhnya berwarna abu-abu terang.

  • Burung Cinenen Pisang (Orthotomus Sutorius)

Burung mungil berukuran sekitar 10-11cm ini sering berkicau dan tergolong burung yang cantik. Burung ini berwarna abu-abu yang dipadukan dengan warna kuning, putih dan hijau zaitun.

  • Burung Kepodang (Oriolus Chinensis)

Makanan burung ini adalah buah-buahan seperti pisang dan pepaya. Berukuran kurang lebih 26cm, burung ini berasal dari Cina. Mereka suka sekali bersiul, siulannya seperti suara suling bambu. Burung ini berwarna hitam yang dipadukan dengan warna kuning, bagian bawah tubuhnya berwarna putih dan matanya berwarna merah.

  • Burung Kutilang (Plenonotus Caferaurigaster)

Tubuhnya berukuran sedang dengan ukuran kurang lebih 20cm dengan paduan warna cokelat kelabu di bagian atas, sedangkan berwarna putih keabuan pada bagian bawahnya. Burung ini makan buah-buahan yang lunak, dan terkadang mereka juga makan serangga-serangga kecil.

  • Ayam Hutan (Galus-galus Banriva)

Ayam Hutan jantan sangat menawan. Warnanya hitam dengan dipadukan warna-warna lain seperti hijau, merah dan biru. Sedangkan, Ayam Hutan betina hanya berwarna kecoklatan dan hitam, serta terdapat bintik-bintik putih di tubuhnya. Mereka banyak makan biji-bijian.

  • Musang (Paradoxurus Hermaproditus)

Mamalia yang satu ini adalah pemakan daging juga buah-buahan seperti pisang dan pepaya. Hewan ini juga termasuk hewan nokturnal karena aktif pada malam hari dan merupakan pemanjat yang handal. Umumnya berukuran 53cm dengan berat 3,2kg.

  • Tupai (Collociurus Notatus)

Kalian pasti sudah tidak asing dengan mamalia yang satu ini. Hewan lucu ini sangat aktif bergerk dari pohon satu ke pohon lainnya. Ukurannya kecil dengan banyak rambut di bagian ekornya untuk menjaga suhu tubuhnya tetap hangat. Tupai adalah pemakan buah-buahan seperti buah kenari dan buah cemara, tidak jarang juga mamalia ini memakan serangga-serangga kecil.

Wah, banyak banget kan fauna di dalam Tahura Djuanda. Selain fauna, ada juga berbagai macam flora di sana, seperti:

  • Pinus

Pohon ini bisa mencapai ukuran tinggi 65m dengan diameter 145cm.

  • Mahoni Uganda

Pohon ini bisa mencapai ukuran tinggi 54m dengan diameter 120cm.

  • Damar

Pohon ini bisa mencapai ukuran tinggi 60m dengan diameter 110cm.

  • Kayu Manis

Pohon ini bisa mencapai ukuran tinggi 25m dengan diameter 30cm.

  • Beringin

Pohon ini bisa mencapai ukuran tinggi 50m dengan diameter 200cm.

  • Cemara

Pohon ini bisa mencapai ukuran tinggi 25m dengan diameter 30cm.

  • Kigelia

Pohon ini bisa mencapai ukuran tinggi 30m dengan diameter 100cm.

  • Bunga Bangkai

Tentu kalian tahu jenis flora yang satu ini. Ini adalah bunga yang sangat langka. Bunga ini bisa menyebarkan bau busuk sejauh 100m untuk menarik serangga. Jika kalian beruntung, kalian dapat menemukan bunga ini di Taman Hutan Raya Haji Djuanda.

Beberapa pepohonan di sana, diberi keterangan nama juga beserta bahasa latinnya. Jadi, kalian dapat mengetahui nama-nama pohon itu dengan hanya membaca papan/kertas tulisan di batang pohon.

Tampat-Tempat Yang Wajib Dikunjungi

Tahura Djuanda ini juga memiliki beberapa tempat yang wajib banget dikunjungi. Tidak hanya hanya hutan, tempat-tempat lain seperti Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Omas, Penangkaran Rusa dan lain-lain. Berikut 5 tempat yang wajib banget kalian kunjungi kalau ke Tahura Djuanda Bandung:

  • Goa Jepang

Goa ini dibangun oleh para pekerja romusha pada saat masa penjajahan Jepang. Goa ini digunakan untuk menyimpan peralatan. Dengan 4 pintu dan 2 saluran udara, tempat ini juga dijadikan markas. Tidak jarang Goa Jepang ini membuat orang-orang merinding. Walaupun keadaan yang gelap (tidak ada pencahayaan dari lampu atau pun lilin), kita tetap bisa melihat ruangan-ruangan yang ada di dalam goa ini. Di pintu masuk Goa Jepang, ada beberapa orang yang akan menawarkan senter atau pun foto. Tentunya ini tidak gratis, ya! Nantinya, setelah kalian selesai, kalian akan dikenakan biaya peminjaman senter atau jasa foto tersebut.

  • Goa Belanda

Goa ini juga dibangun oleh para pekerja rodi pada masa penjajahan Belanda. Goa ini memiliki 12 lorong yang juga tidak memiliki penerangan. Walaupun demikian, Goa Belanda ini tidak lebih gelap daripada Goa Jepang. Ada mitos dari warga setempat bahwa di Goa Belanda ini kalian tidak diperbolehkan menyebut kata “lada” karena jika kalian menyebutkannya, konon katanya kalian akan tertimpa hal-hal mistis.

  • Jembatan Gantung

Jembatan gantung ini sangat terkenal karena banyak orang-orang yang mengambil foto di jembatan ini. Jembatan ini melintang di atas Sungai Cikapundung dan tidak boleh dilewati lebih dari 4 orang secara bersamaan.

  • Penangkaran Rusa

Di dalam Tahura Djuanda juga ada penangkaran rusa. Tenang saja, di pintu masuk penangkaran rusa ini, kita dapat memebeli beberapa buah wortel untuk diberikan kepada para rusa. Kita juga tidak perlu takut diseruduk rusa karena kita hanya diperbolehkan berada di atas papan kayu, tidak diperbolehkan menginjakan kaki di lapangan penangkaran. Walaupun demikian, sebenarnya para rusa ini tidak terlalu galak, jadi kalian tidak perlu takut. Lapangan penangkaran ini lumayan luas sehingga di dalamnya ada banyak rusa.

  • Curug Omas

Kalian bisa main air di curug ini. Tapi, jangan coba-coba saaat musim hujan. Saat musim hujan, air dari curug ini menjadi lebih deras dan lebih naik. Walaupun demikian, di sekitar curug ini ada kolam renang yang bisa digunakan, juga ada kolam rendam yang bisa digunakan. Tentu saja kalian akan dikenakan biaya untuk menggunakan fasilitas ini.

Jika kalian pergi dari Goa Jepang ke Goa Belanda lalu dilanjut ke Jembatan Gantung, Penangkaran Rusa lalu Curug Omas, dan kembali ke gerbang masuk Tahura, kalian berarti hanya menghabiskan 12km dengan trek jalan yang menanjak saat pergi dan menurun saat kembali. Cape? Tentu saja tidak terasa. Kalian nantinya akan disuguhkan dengan pemandangan yang sangat menakjubkan dan udara yang sangat sejuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *